Friday, January 28

Pernah lihat kan gaya cewek atau cowok terpopuler di lingkungan Anda? Biar nggak cantik-cantik/kece-kece amat, tapi banyak orang yang suka sama dia. Lawan jenis kepingin ngajak kencan, yang sejenis ingin jadi teman-temannya. Punya apa sih cewek atau cowok macam apa itu?

Namanya charm Daya tarik lebih dari sekadar bakat untuk membuat orang - termasuk orang yang baru dikenal - merasa nyaman dan menikmati pertemanan dengannya. Selain menyenangkan, biasanya orang itu juga hangat, dan didefinisikan oleh intonasi suara serta kontak mata yang dikirimkan. Ia juga ahli bikin orang lain merasa menjadi seseorang ketika berbicara dengannya. Daya tarik seperti ini disebut charm.

Anda juga bisa menarik Untungnya, daya tarik seperti itu bukan monopoli orang yang dari 'sana'nya sudah begitu. Anda juga bisa punya daya tarik, selama Anda memadupadankan kata-kata manis, senyum hangat, dan nada pertemanan dalam suara Anda. Inilah beberapa langkah yang perlu Anda tiru:

1. Bikin kontak mata Pertama, sadari bahwa Anda harus siap melakukan ini. Dewasa ini, banyak orang menghindari kontak mata hanya karena ia malas berbasa-basi. Padahal, sekali tatapan Anda menghinggapi seseorang, dan terjadi kontak mata, daya tarik Anda mulai terbentuk.
Bagaimana mau menjadi orang yang penuh daya tarik bila orang lain tidak mengetahuinya?

2. Senyum Setelah kontak mata, jangan hanya berdiri di sana dan bengong. Buatlah lambaian tangan yang menunjukkan kehangatan. Tarik sudut-sudut mulut Anda dan perlihatkan sedikit deretan gigi. Biar pun orang itu tak Anda kenal, paling-paling ia cuma akan balas tersenyum, tersipu-sipu, atau melengos. Itu kan risiko yang amat kecil.

3. Beri keramahan Faktanya adalah, orang yang ramah akan memperoleh perhatian orang lain.Coba ingat-ingat kali terakhir Anda membayar sesuatu di kasa supermarket. Anda tersenyum? Banyak orang tidak. Tapi, orang yang sering tersenyum, bahkan menyapa, selalu diingat petugas kasir. Ini akan memudahkan Anda nantinya kalau ada salah hitung dan sebagainya.

4. Buat percakapan yang hangat Banyak orang memang tak suka basa-basi. Sepertinya, gaya mereka terwujud dalam kata-kata, "Aku nggak peduli sama kamu, dan kamu nggak usah peduli sama aku." Padahal, perilaku ini tak sesuai dengan sifat alami manusia, yang selalu ingin diperhatikan dan memperhatikan sesamanya. Orang yang menarik, biasanya tahu bagaimana mengembangkan sifat alamiah ini.

5. Beri pujian Wah, kalau yang ini Anda lakukan pada lawan jenis, hasilnya pasti bukan main. Bila ada teman Anda - apalagi seseorang yang sedang Anda taksir - mengenakan sepatu baru, memotong rambut, mengubah dandanan, dan semacamnya, berilah pujian. Syaratnya, harus tulus. Kalau Anda terbiasa melakukan hal ini, percaya deh, 'mutu' Anda makin naik.

Ternyata, jadi orang menarik itu nggak susah-susah amat, kan? Kuncinya hanya keramahan, kehangatan, dan keinginan untuk memperhatikan orang lain. Bila ini Anda lakukan, entah ke teman cewek atau cowok, uh, Anda pasti jadi orang yang sukar untuk ditolak. Simply irresistible. Mau, kan?




i blogged
2:55 PM

Wednesday, January 19

Begitu melihat orang baru atau siapa aja kadang secara refleks kita langsung menilai orang tersebut. Pertimbangannya bisa macam-macam, cara bicara, gaya berpakaian, sampai lirikan matanya. Kadang penilaian kita benar kadang salah, well, sebenernya oke nggak sih tindakan kita itu.

Coba inget-inget deh, sering nggak kamu bisa ngomong kamu nggak suka sama seseorang, padahal kamu sendiri nggak pernah ngomong sama dia. Penilaian kamu itu biasanya atas dasar pengamatan terhadap caranya bergaul, berbicara atau penampilannya. Tapi sebaiknya sih kamu nggak menilai orang se-cetek itu. Kan kan nggak kenal sama dia!

Nggak jarang kita juga menghakimi orang berdasarkan tampang atau popularitasnya. Apakah menjadi seorang model membuat seseorang lebih baik dari orang lain ? Apakah jadi bintang basket di berarti yang paling hebat?

Kekayaan dan jumlah uang yang dimiliki juga sering menjadi bahan penilaian. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, kamu seharusnya sudah tahu akan hal itu. Semua hal yang fana didunia ini tidak bisa membuatmu bahagia. Memiliki keluarga yang harmonis dan teman-teman yang setia, lalu melakukan hal-hal yang kamu sukai, itu semua bisa membuatmu bahagia.

Kita menghakimi orang lain karena caranya berbicara, kata-kata yang mereka ucapkan, cara mereka tersenyum, tertawa, dan seterusnya. Mengapa ? Entahlah. Hanya karena seseorang mengucapkan kata-kata kasar, hal itu tidak membuatnya menjadi orang yang jahat. Hanya karena seseorang menggunakan kata-kata ?pintar?, tidak pula membuatnya menjadi orang yang baik.

Yang perlu kita inget adalah, biasanya kita mendasarkan penilaian atas penampilan luar aja, baik atribut fisik, barang kepunyaan, tempat tinggal, cara bicara, tempat nongkrong, dan seterusnya. Kita harus mengenalnya seseorang terlebih dahulu sebelum menghakiminya. Kamu pasti nggak suka dihakimi orang lain, jadi sebaiknya jangan menghakimi orang lain juga dong! Walau masih akan ada orang lain yang menghakimimu, kamu akan jadi orang yang lebih baik dari mereka karena kamu nggak berlaku seperti itu. Lagipula nggak jarang juga kan kamu berkata.. "oo kirain kamu orangnya jutek.. taunya kamu baik juga.." Iya nggak?




i blogged
10:51 AM

Monday, January 17

Mungkin salah satu tujuan keberadaan manusia di bumi ini adalah untuk berjalan. Berjalan ke sana ke mari sudah jadi bagian kegiatan manusia sejak awal cerita Adam & Hawa maupun menurut cerita Darwin.

Walaupun sepertinya sederhana, tetapi berjalan mempunyai arti yang lebih dalam. Sebuah perjalanan akan menghasilkan perpindahan, penjelajahan, dan penemuan. Semuanya menjadi manusia tetap bertahan hidup.

Perjalanan manusia tidak pula identik hanya dengan menggunakan kaki. Perjalanan bisa dilakukan tiap saat dengan mata, dengan pikiran, dengan hati. Selalu ada bagian dari manusia yang berjalan-jalan selama ia bernafas.

Perjalanan pula tidak selamanya menarik, kadang membosankan, kadang panjang dan lama seperti dimain-mainkan oleh relativitas. Karena itu pula manusia hidup beramai-ramai, agar dalam berjalan mereka tidak kesepian dan saling menuntun arah.

Manusia berjalan di atas bumi yang bulat, ke arah mana pun mereka berjalan tidak akan tahu di mana ujung perhentiannya. Tetapi manusia punya kesempatan untuk tahu manusia lain mana yang akan menemaninya berjalan.




i blogged
3:04 PM

Oleh : KH A Hasyim Muzadi
"Inna Ahwanal Anbiyaa-i Mautan Kaliimullaah Muusaa'alaihissalaam" (Di antara para nabi yang paling mudah mengalami derita kematian adalah Nabi Musa AS). Planet tempat kita tinggal, hanyalah merupakan titik teramat kecil di tengah bentangan Bima Sakti yang menghuni alam semesta. Ia tak lebih dari sekadar sebuah molekul sepermini di antara bilangan tak terhingga molekul-molekul lainnya. Bumi kita dikelilingi lautan mahaluas dengan gelombang miliaran ton energi yang sungguh ganas. Di atas semua kehidupan ini, Allah SWT bersemayam, di Singgasana kerajaan-Nya. Dialah yang mengatur semuanya.

Kalau bumi yang mampu menampung miliaran lembar nyawa manusia saja ukurannya seperti titik, lantas di mana tempat kita di tengah tata surya ini? Lantas, kenapa kita selalu merasa paling besar, paling berkuasa sangat angkuh, padahal sesungguhnya kita hanyalah mahluk yang sangat lemah tak berdaya? Kenapa kita selalu merasa hebat, padahal di luar hak kepemilikan Allah SWT atas kita, rasa ketergantungan kita kepada alam sangatlah besar?

Di penghujung tahun 2004 lalu, Allah benar-benar menunjukkan betapa Maha Besar-Nya Dia dan betapa sangat kecil dan lemahnya kita. Sebuah patahan bumi yang bergerak hingga menyebabkan gempa serta lempengan bumi yang menganga sepersekian detik hingga mengakibatkan tumpahnya air laut dalam bentuk tsunami, seperti hentakan keras suara Malaikat Maut di gendang telinga kita bahwa Allah itu Wujud (Maha Ada).

Dalam untaian kata-kata biasa, gempa tektonik berskala 9,0 magnitudo telah menyebabkan tsunami di Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 sehingga 150 ribu orang tewas di 12 negara Asia-Afrika. Bencana ini terjadi persis setahun setelah gempa di Bam Iran yang menewaskan 30 ribu orang pada tanggal 26 Desember 2003. Lantas di mana letak Aceh dan Sumatra Utara di antara molekul-molekul itu? Aceh dan Sumatra Utara hanya sebagian kecil dari Bumi Nusantara Indonesia hanya bagian terkecil dari bentangan bumi. Bumi tak lebih dari sekadar satu titik dari sebuah garis kekuasaan di antara Kekuasaan-Nya. Allahu Akbar!

Dalam konteks ke-Maha Besar-an Allah, bencana gempa bumi dan gelombang tsunami tersebut benar-benar tak mampu kita prediksi sehingga untuk mengetahui adanya aktivitas seismik yang dapat direkam sebelum terjadi gempa, tak bisa kita lakukan. Ketika pengetahuan manusia begitu terbatas, kepekaan menurun, kesadaran ilmiah berkurang, mendadak bencana itu seperti dikendalikan dengan menggunakan gelombang elektromagnetik.

Di tengah arogansi kita sebagai manusia Allah SWT langsung menunjukkan Sifat Al-Qahhar (Yang Maha Perkasa) dengan memerintahkan malaikat untuk meniupkan triliunan ton kumpulan energi yang sangat besar, sehingga terciptalah gempa dan tsunami. Demikianlah, "Wa Idzal Bihaaru Fujjirot" (Dan Apabila Samudera Ditumpahkan). Secara materi dan kasat mata kerusakan yang ditimbulkan luar biasa mengerikan. Ribuan bangunan rata dengan tanah dan kampung-kampung menghilang dari peta daerah. Yang sungguh menghempaskan jiwa kita sebagai anak manusia ke dasar sumur tanpa dasar adalah karena beribu-ribu lembar nyawa manusia melayang dengan proses dan caranya masing-masing. Kalau kerusakan benda dapat kita berikan, bagaimana dengan tercabutnya nyawa-nyawa tak berdosa karena diambil Malaikat Maut tanpa ada isyarat sedikitpun.

Mereka yang menjadi korban adalah rakyat kita yang tingkat kepatuhannya tak pantas kita pertanyakan. Saudara-saudara kita di Aceh terutama sudah sekian puluh tahun menderita lahir dan batin karena situasi yang tak pernah menentramkan. Dalam hikmah-Nya puluhan atau mungkin seratus ribu lebih nyawa itu, sengaja diselamatkan Allah untuk didaftarkan sebagai penghuni surga karena dunia sudah tak nyaman bagi mereka.

Lantas, benarkah pendaftaran menuju surga tanpa pengorbanan? Tercabutnya nyawa dari badan sungguh tak terperikan sakitnya. Tapi bagi syuhada Aceh itu jauh lebih baik dengan menjadi penghuni surga ketimbang terus menderita. Coba kita simak sebuah riwayat berikut seputar gambaran tercabutnya nyawa dari jasad manusia. Syahdan, begitu tiba janji-Nya Malaikat Maut mendatangi Nabi Musa alaihissalam. Nabi Musa mendadak pucat. Hanya karena kedekatannya kepada Allah SWT Malaikat Maut mencoba melakukan dengan sangat hati-hati. Begitu Malaikat Maut akan mencabut nyawa Nabi Musa dari ujung kakinya, Nabi Musa bertanya,"Sampai hatikah engkau mencabut nyawa saya dari kaki yang pernah kugunakan untuk berjalan menuju Gunung Tursina ketika turun Firman-Nya?".

Malaikat Maut mengurungkan niatnya, "Bagaimana kalau dari tangan?" tanya Malaikat Maut. "Duhai Malaikat Maut. Lupakah engkau betapa hanya dengan tangan ini saya menerima lembaran-lembaran shahifah suci yang berisikan Firman-Nya?" kata Nabi Musa merajuk. "Bagaimana kalau dari bagian kepala saja?" kata Malaikat Maut masih menawar. "Ya Allah Robbul 'Izzati. Malaikat-Mu akan mencabut nyawa hamba mulai dari kepala ini, padahal sepanjang hidup hamba jadikan tempat untuk bersujud dan bermunajat kepada-Mu?" kata Nabi Musa. Begitu tak ada jalan lain, Malaikat Maut mengambil untuk Nabi Musa selembar kulit jeruk. "Hai Musa, hiruplah aroma kulit jeruk itu saja," perintah Malaikat Maut. Begitu aroma jeruk menyelusup ke rongga hidungnya, Nabi Musa menghembuskan napas. Beliau wafat di ujung kulit jeruk. Jeruk yang skala dahsyatnya seperti gelombang tsunami.

Karena proses itulah, maka Nabi Musa dikenal sebagai seorang nabi yang paling mudah kematiannya. Tetapi sadarkah dan tahukah kita bagaimana sebenarnya makna mudah dalam proses kematian Nabi Musa? Dalam sebuah riwayat lanjutannya, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Kematian Nabi Musa sama kadar kegetirannya dengan penderitaan seseorang yang ditebas dengan sebilah pedang yang sangat tajam sebanyak 300 kali."Pada riwayat lainnya disebutkan kematian termudah nabi Musa itu ibarat seekor domba yang dalam keadaan segar bugar tetapi lantas dimatikan dengan cara mencabut bulu-bulunya dalam keadaan hidup. "Ibarat sebuah pentungan besi bergerigi yang ditancapkan ke perut, lantas ditarik dengan sangat keras dan tenaga yang kuat. Tak adakah bagian yang ikut terbawa pentungan itu?" kata Sayyidah Aisyah RA.

Itulah yang dialami Nabi Musa, sebuah proses termudah. Bagaimana dengan proses kematian saudara-saudara kita yang diterjang gelombang tsunami? Kalau kita harapkan mereka menjadi syuhada (pasti bukan nabi), maka kita bisa menggambarkan sendiri. Kini mari kita lepas kepergian saudara-saudara kita sebagai ahli surga. Kita yang ditinggal, mari berlatih memahami kematian secara tulus dan mencoba merasakan betapa dahsyatnya kematian. Wallaahu A'lamu Bisshowaab. (RioL)
www.nu.or.id




i blogged
10:24 AM

::Menjadi Bijak:.


Bayu Chandra K
21 tahun
Auditing Team UIN Suka,Yk.


::Perjalanan Ini:.


camila..
deppii..
eq..
jessica..
muslimblog..
riri prambors..
sakura..
zenit..
tagboard


tagboard here



X-travagant Designs ©


Get awesome blog templates like this one from BlogSkins.com