Thursday, February 3
" Sebagai makhluk Allah kita ini memiliki kemampuan-kemampuan yang sangat terbatas, artinya Allah pun "menerima kenyataan" bahwa manusia memiliki kemampuan yang sangat minim bila dibandingkan dengan eksistensi semesta ini. Allah pun mempermudah manusia dalam usaha menghamba kepada Nya. Laa Yukalifullahu Nafsan Illa Wus'aha, manusia tidak akan dibebani diluar kemampuannya. Ittaqullaaha Mastatho'tum, bertakwalah semampumu. Bahkan meskipun dalam konsep ilahiyah tidak ada dualisme dunia dan akhirat, Allah "mengijinkan" manusia untuk mencari hal-hal yang bersifat duniawi saja yang tidak memiliki implikasi ilahiyah. Allah menurunkan berita kepada manusia, yang sebenarnya tanpa berita itu pun tetap akan bertindak demikian. Manusia benar-benar sangat kecil dibandingkan dengan kebesaran Allah yang kebesarannya sendiri jauh melebihi teks-teks tentang kebesaran Allah.Tetapi, manusia dengan keterbatasan dan kekerdilannya seringkali "memperkecil" kebesaran Tuhan. Mempertuhankan pikiran kita sendiri untuk kemudian menyekat-nyekat Tuhan dalam lingkup yang terbatas. Oleh pemikiran manusia, Tuhan didefinisikan, artinya (kita) manusia memberi batasan-batasan mengenai kebesaran Tuhan, yang merupakan pengingkaran akan kemahabesaranya.
Definisi bukanlah jawaban untuk pertanyaan "Apa dan Siapa Tuhan?", Tuhan bukanlah suatu fungsi ataupun peran, deskripsi tentang Tuhan tidak akan pernah berakhir pada suatu kesimpulan, entah Tuhan sepeti apa dan bagaimana, kita tidak dapat memperkirakan dan membayangkan Nya. Laysa Kamitsliihi syaiun, tidak ada yang mampu menyamai Nya. Allah dibayangkan makhluknya seperti apapun pasti keliru. Ia maha suci dari setiap pengertian dan bayangan makhluk Nya. Tauhid bukanlah mengesakan dan mengakui keesaan Tuhan. Allah esa karena dirinya semata, tidak ada pengaruh apapun.
Salah satu bentuk pemberhalaan adalah pemberian identitas, suatu "pemahaman" tentang Tuhan yang kemudian dianggap sudah merupakan rumusan yang final. Merumuskan Tuhan menurut citra kita sendiri dan kemudian membayangkan representasi itu sebagai Tuhan, setelah itu mengidentifikasikan wujud yang disembah itu sebagai Tuhan sendiri. Allah maha tak tersentuh oleh setiap gagasan manusia. Kita hanya mengenali bayangan Nya, tetapi bayangan Nya bukanlah Ia.
Tuhan bukanlah objek ilmiah, tetapi pemikiran manusia menjadikanya sebuah objek yang dipelajari dengan aturan-aturan dan sistematika yang dihasilkan dari pemikiran terbatas manusia. Dengan pendekatan ontologis, manusia menjadikan dirinya sebagai subjek yang mempelajari objek, yaitu: Tuhan!, dari sudut pandang ini, menurut subjek, Tuhan adalah sebuah fungsi dan peran
Kita tidak akan mampu menterjemahkan Tuhan dalam hubungan ilmiah, karena memang pikiran manusia tidak akan mampu untuk mencapainya, puncak dari pengetahuan manusia sendiri adalah ketidaktahuan. Suatu pencapaian yang tidak akan pernah benar-benar sampai pada suatu kesimpulan yang mutlak. Makhluk (baca:manusia) dengan Tuhan Nya bukanlah pendekatan subjek-objek, melainkan suatu pendekatan peniadaan objek, suatu pendekatan makrifat, dimana manusia tidak dalam posisi sebagai khalifatullah, yang dalam perannya sebagai kepanjangan tangan Tuhan di muka bumia menggunakan daya pikirnya untuk merekayasa segala hal. Manusia dalam hubungan ini dalam posisi sebagai Makhluk yang perannya tidak lain kecuali hanya mengabdi kepada Tuhan. Manusia tidak perlu memahami apa dan bagaimana Tuhan itu, yang sekedar perlu dipahami adalah Tuhan itu seperti apa yang sudah diinformasikan oleh Allah sendiri, Maha Besar, Maha Penyayang dan Pengasih, Maha Suci dari hal yang tidak patut serta sifat yang lainnya. Itulah iman.
*Disarikan Dari Beberapa Tulisan Cak Nun & Mas Goen*
padhangmbulan.com
i blogged
4:50 PM
Get awesome blog templates like
this one from BlogSkins.com